Tahun 2011 ini saya berbahagia, saya dapat berziarah kembali diatas pusara sekitar 250 ulama yang sejatinya masih satu keluarga. Dalam satu komplek pemakaman desa yang didalamnya “bersemayam” para ulama, pejuang kemerdekaan, maha guru tariqhat, tokoh-tokoh nasional, para penghafal al-Qur’an, penghafal hadits nabi, penghafal kitab klasik keagamaan, mubaligh international, qori internasional, cendekia, para ahli ilmu agama, pendekar silat, guru mengaji, ustadz dan guru sekolah yang berbaur dalam kehidupan alam berbeda dengan warga yang mencinta ulamanya. Terbayang betapa riuh dan hangatnya jika manusia-manusia luar biasa ini masih hayat semua dan mencurahkan kasih ilmunya bagi para pelajar agama.

Saya adalah salah satu pelajar itu, tetapi tentu tidak dapat bertemu dengan semuanya. Saya merupakan anak zaman dari generasi kelima keluarga besar ulama ini. Inilah desa penuh cahaya, bumi perjuangan yang terus bersinar terang. Buntet Pesantren, kampung santri yang berisi empat puluhan pondok pesantren. Didirikan oleh Mbah Muqoyim pada tahun 1758, diteruskan oleh menantunya Kyai Haji Muta’ad, diteruskan putranya Kyai Haji Abdul Jamil, dilanjutkan oleh putranya Kyai Haji Abbas, diteruskan kembali oleh putranya Kyai Haji Abdullah Abbas dan berestafet kepada adik kandungnya Kyai Haji Nahduddin Abbas. Sudah lima generasi dan saya hanya dapat berjumpa dengan guru-guru saya dari generasi kelima ini.

Berawal dari satu tunas menjadi satu pohon besar yang memiliki dahan yang lebat, lalu muncullah ranting-ranting dan dedaunan yang lebat serta muncul kembali cabang-cabang baru yang lebih kecil. Ranting dan daun yang kering akhirnya jatuh ke tanah dan pada musim semi akhirnya pupus bersemi lalu menjadi ranting dan daun yang baru. Sekecil apapun cabang, ranting dan daun itu sejatinya lahir dari satu tunas. Inilah gambaran keluarga besar ulama Buntet Pesantren.

Keturunan Prabu Siliwangi, Raja Padjajaran Jawa Barat yang menikahi Nyai Mas Subang Larang, putri Ki Gedeng Tapa pendiri Cirebon dan murid Syeikh Qurattul ‘Ain seorang administratur pelabuhan sekaligus maha guru dibidang ilmu al-Qur’an yang bermukim dipesisir Karawang. Dari pernikahan inilah nantinya lahir seorang cucu bernama Syeikh Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati yang bergaris langsung kepada Nabi Besar Muhammad SAW melalui Sayidatina Fatimah Azzahra. Anak cucu Sunan Gunung Jati kemudian menyebar di Cirebon dan sekitarnya hingga ke penjuru tanah Jawa. Salah satunya adalah keluarga besar ulama Buntet Pesantren. Namun klan garis biru ini lebih memilih untuk mendarmabaktikan diri pada agama dan keumatan. Menjauh dari hiruk pikuk kekuasaan sebagai putra raja-raja kesultanan Cirebon.

Hari ini merupakan hari peringatan haul para ulama dan warga Buntet Pesantren. Dalam satu komplek pemakaman yang dikenal dengan nama “Gajah Ngambung” ini telah penuh sesak oleh keluarga, anak, cucu, warga sekitar, alumni, santri hingga para muhibbin yang berjumlah ribuan ini. Setiap tahun haul selalu diperingati sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan para pendahulu. Acara peringatan yang digelar dengan rangkaian acara selama lima hari berturut-turut ini diadakan penuh semarak mulai dari bakti sosial, khitanan massal, pengobatan gratis, halaqoh diniyah, seminar, bahtsul masa’il diniyah, sema’an al-Qur’an, tahlil umum, pembacaan manaqib ulama Buntet Pesantren hingga pada acara puncak yakni pengajian umum yang digelar dihalaman utama masjid agung Buntet Pesantren.

Peringatan haul bukan hanya menjadi tradisi tetapi telah memiliki nilai dan makna yang melampaui arti sebuah tradisi itu sendiri. Karena haul telah bermanifestasi menjadi sebuah kekuatan kolosal yang mampu mendatangkan keberkahan, kegembiraan dan jalinan bathin yang sangat kuat bagi segenap jiwa yang hadir. Bayangkan ribuan alumni pesantren bertemu dengan puluhan kyai dan ratusan keluarga kyai, ribuan santri yang masih mondok bertemu dengan ribuan keluarganya yang mengunjungi berbaur dengan ribuan warga dan masyarakat sekitar, tumpah ruah penuh suka cita, gembira dan haru.

Dari kejauhan jarak dua sampai tiga kilometer sebelum masuk komplek pondok pesantren berjajar puluhan bus antara kota, bus antar propinsi, ratusan atau bahkan ribuan mobil pribadi, deretan motor baik yang parkir maupun yang lalu lalang hingga pejalan kaki yang merayap dari jalan raya hingga di gang-gang sempit dikomplek pesantren. Ribuan pedagang menjajakan dagangannya mulai dari pakaian, makanan, minumam, mainan anak, jajanan khas Cirebonan, buah tangan hingga arena permainan anak-anak yang ramai sesak. Saya melihat dari air muka semua yang hadir terpancar jelas betapa kebahagiaan itu juga hadir. Haul bukan hanya sekedar tradisi tapi mampu menggerakkan roda ekonomi dan menembus ruang hati.

Seperti tahun tahun sebelumnya haul tahun 2011 ini dihadiri oleh beberapa pejabat daerah, Menteri dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Tampak dibarisan depan tempat duduk Very Important Person di depan podium terlihat Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal H.A. Helmy Faishal Zaini yang juga merupakan keluarga besar Buntet Pesantren. Disampingnya terlihat Bapak Gubernur Jawa Barat, Wakil Bupati Cirebon, KH.Said Aqil Siraj, keluarga pesantren Kempek yang masih famili dengan Buntet Pesantren yang saat ini menjadi Ketua Umum PBNU. Tampak pula Allysa Qotrun Nada’- putri Gus Dur, Ketua GP Anshor Nusron Wahid, beberapa perwakilan DPR RI dan ada juga Habib Umar Muthohar dari Semarang yang didapuk sebagai penceramah yang sudah menjadi langganan haul Buntet dari tahun ke tahun. Mubaligh yang satu ini selain memiliki kedalaman ilmu agama tetapi juga memiliki gara bicara yang sastrawi, orang pesantren menyebutnya “baligh”, enak didengar, sedap, jenaka dan kocak. Duduk paling tengah adalah sesepuh Buntet Pesantren KH.Nahduddin Abbas yang lebih akrab dipanggil Mbah Din. Didampingi beberapa Kyai Buntet Pesantren lainnya dan dibarisan belakang ada ribuan tamu dan undangan baik yang duduk di tribun utama maupun yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Sebelum acara puncak haul ini Mbah Din juga mendapat tamu kehormatan yakni Kapolri Timur Pradopo beserta rombongan dan beberapa hari sebelumnya Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Sekjen Eddy Baskoro, putra orang pertama di republik ini Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono yang telah lebih dahulu berkunjung ke Buntet. Anas Urbaningrum yang juga menantu KH.Atabik Ali dari Pesantren Krapyak Yogyakarta bersama Ibas -panggilan akrab Eddy Baskoro, datang ke Buntet dalam rangka silaturahmi dan disambut oleh Ketua YLPI Buntet Pesantren KH.Adib Rafiuddin Izza –Ro’is Syuriah PBNU, beserta para ulama Buntet lainnya dan menjenguk KH.Abdul Hamid Anas -salah satu ulama sepuh Buntet, yang saat itu masih sakit dan dirawat di RS Pelabuhan Cirebon. Sudah bukan hal yang aneh jika Buntet Pesantren selalu didatangi tokoh-tokoh nasional karena memang Buntet merupakan pesantren tertua di tanah Jawa Barat. Biasanya menjelang hajatan Pemilu maka Buntet menjadi pesantren yang paling sering didatangi tokoh nasional. Saya sendiri terkadang berfikir, kenapa Buntet yang dipilih dan seperti menjadi rujukan.

Orang luar tentu memaknai kedatangan tokoh-tokoh menjelang Pemilu itu ada maksud tertentu, “ada udang dibalik batu”. Ada motif politik atau semacam promosi ke kalangan pesantren untuk “personal branding” bagi mereka yang ingin maju dalam Pemilu. Saya tidak tahu apa yang ada dihati para tamu besar itu. Tapi satu hal yang akhirnya saya fahami, bahwa orang pesantren memiliki kearifan yang sangat tinggi. Guru saya menyampaikan pada dasarnya pesantren tidak pantas untuk terlibat terlalu jauh dalam politik praktis. Pesantren dan ulama sudah selayaknya menjaga sikap dari upaya dukung-mendukung calon tertentu yang akan maju dalam Pemilu. Pesantren harus menjadi gerbang penjaga moral ditengah terkoyaknya kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpinnya. Lalu apa sejatinya yang menjadi sikap politik pesantren. Politik pesantren adalah politik keumatan dimana pijakannya adalah etika kepesantrenan.

Pesantren memandang bahwa siapapun yang datang adalah tamu yang wajib dihormati dan tentu pesantren menerima siapa saja yang datang. Terlebih bahwa tokoh-tokoh tersebut adalah “aset bangsa” karena merupakan pemimpin atau calon pemimpin negara. Tentu ulama harus memberikan sokongan dan memberikan masukan dalam kerangka amar ma’ruf dan nahi munkar. Watawashau bil haqqi watawashau bishshobri”, saling berwasiat didalam kebenaran dan kesabaran. Selanjutnya menurut guru saya, adapun mengenai pilihan pribadi terhadap partai politik mana dan atau calon pemimpin negara siapa yang dipilih, biarlah diri kita sendiri yang tahu. Cukup sebagai warga negara yang baik kita ikut memberikan suara kita dalam Pemilu dengan cara mencoblos didalam bilik yang tertutup. Hanya kita sendiri dan Allah yang tahu. Lalu, siapapun yang jadi terpilih menjadi pemimpin negara tugas kita selanjutnya adalah athi’ullah wa athi’urrosul wa ulil amr ulil amri minkum, “taatilah Allah dan taatilah Rasul dan pemimpin bangsamu”. Jadi setelah pemimpin baru terpilih tugas kita adalah mensokong dan mentaatinya selama tidak mengajak pada kemaksiatan. Mendengar penjelasan ini saya lega dan akhirnya dapat melihat betapa hikmat dan bijaksananya etika politik pesantren.

Pada haul tahun ini, saya juga sempat sowan ke guru saya KH. Adib Rafiuddin Izza. Kyai Buntet yang satu ini merupakan salah seorang ulama yang diangkat menjadi Rois Syuriah PBNU termuda, dalam usia yang ke 39 tahun. Biasanya jabatan Rois Syuriah PBNU diisi oleh ulama sepuh yang berusia diatas 50 tahun. Jam dua belas malam beliau menemui saya dan sebelumnya ratusan tamu silih berganti bertandang ke “ndalem” beliau. Saking asyiknya bercengkerama dengan beliau hingga pukul tiga pagi baru saya pamit, itu pun karena beliau menyampaikan “wes waktue ngirim proposal ning Gusti Allah”, artinya sudah saatnya kirim “proposal” pada Allah. Maksudnya tentu sudah saatnya munajat pada Allah Ta’ala. Inilah kalahnya kita dengan para ulama walaupun beliau tidak meniti karir profesional layaknya masyarakat modern tapi ulama terkadang diberikan “penghasilan” lebih besar dan berkah karena setiap malam kirim “proposal” pada Yang Maha Kaya. Tentu saja kemungkinan “proposal” dapat “diterima” dan “disetujui” sangat besar karena sejatinya merekalah orang-orang yang dipilih Allah. Orang-orang yang senantiasa menghiasi malam dengan bersujud, menengadah dan mengangkat kedua tangan mengharap kemurahan-Nya.

Sebelum pamitan setelah ngalor ngidul berbincang-bincang dengan Kyai Adib mengenai perkembangan Buntet Pesantren, NU hingga bercerita mengenai rencana pernikahan putri sulung beliau dengan putra pamannya sendiri Kang Zidni Ilman. Kang Zidni adalah putra KH. Nasirudin Ahmad Zahid yang nota bene adalah adik kandung ayahanda Kyai Adib. Menurut saya Kang Zidni adalah menantu idaman karena selain ganteng mirip Irfan Bachdim pemain bola Timnas yang saat ini digandrungi bak selebritas, Kang Zidni juga tergolong putra Buntet yang cerdas. Saya melihat sendiri ketika waktu itu mampir asrama beliau di Pamulang tempat beliau nyantri semasa kuliah di Jakarta. Ditengah kesibukan beliau belajar di kampus sebagai mahasiswa, Kang Zidni masih sempat mengarang nadzam (syair bahasa Arab) yang berisi pokok-pokok materi arabic grammar. Orang pesantren menyebutnya nadzam ilmu Nahwu. Ratusan bait syair bahasa Arab dikarang dan dihafal diluar kepala oleh Kang Zidni.Luar Biasa!.

Disamping itu Kang Zidni juga aktif sebagai penggiat kelompok diskusi mahasiswa Cirebon di Jakarta, ELSAS. Menulis dan diskusi. Sekarang beliau sudah menjadi ustadz di Buntet, muruk ngaji untuk para santri, memimpin radio komunitas Best FM, memimpin organisasi IKAPB (Ikatan Keluarga Pondok Pesantren Buntet) dan segudang aktifitas kepesantrenan lainnya. Ah, ngak habis habis ceritanya. Kang Zidni merupakan salah satu tunas baru Buntet, bukti berjalannya regenerasi keulamaan di Buntet Pesantren. Saran saya buat pembaca yang belum pernah ke Buntet Pesantren, sekali-kali berkunjunglah ke Buntet. Disana bukan hanya banyak “Irfan Bachdim” yang lain tapi banyak Gus Dur kecil bahkan saya yakin dari bumi perjuangan ini akan lahir Soekarno baru.

Mungkin pembaca yang belum pernah datang ke Buntet, bertanya kenapa saya selalu menulis Buntet Pesantren, bukan Pesantren Buntet. Secara gramatis memang tidak konvensional karena masyarakat umumnya menyebut kata pesantren di depan nama pesantren itu sendiri. Tapi inilah fakta dan bedanya Buntet Pesantren dengan pondok pesantren lainnya. Karena pondok pesantren di Buntet memang memiliki karakteristik berbeda dengan pesantren lainnya. Umumnya pondok pesantren adalah suatu tempat pendidikan yang terdiri dari bangunan asrama penginapan santri, ruang kelas belajar dan terdapat masjid yang berada dalam satu komplek khusus. Didalamnya terdapat seorang Kyai dan dibantu dewan pengajar yang mendidik para santri pendatang mengenai ilmu agama. Sebagai tempat pendidikan biasanya pondok pesantren berada dalam satu komplek khusus yang membedakan dengan perumahan penduduk sekitar. Terkadang dikelilingi pagar dan tertutup untuk akses umum agar konsentrasi belajar santri tidak terganggu. Tapi hal tersebut berbeda jauh dengan Buntet Pesantren.

Buntet Pesantren merupakan pesantren masyarakat dan masyarakat pesantren dimana pendidikan yang digelar sangat terbuka karena bukan hanya dikhususkan untuk para santri pendatang tetapi juga untuk warga sekitar. Jadi warga Buntet baik keturunan Kyai atau masyarakat biasa semuanya mengaji kepada para Kyai dan para santri tidak hanya menempati komplek asrama khusus tetapi terkadang tinggal dirumah penduduk biasa yang notabene bukan Kyai atau pengajar. Pembauran antara masyarakat, santri pendatang dengan Kyai menjadikan Buntet menjadi cluster tersendiri yang dari ujung desa sampai ujung lainnya berisi kegiatan pengajian dan pengajaran ilmu keagamaan. Akhirnya pola hidup, tradisi, karakteristrik hingga lifestyle antara warga desa, santri dan Kyai menjadi satu garis yang homogen khas typologi orang sarungan. Warga desa biasa juga terkadang ikut mengajar bagi para santri dan juga ikut mengaji kepada para Kyai. Karenanya Buntet tidak disebut Pondok Pesantren Buntet tetapi Pondok Buntet Pesantren. Jadi kalo meminjam istilah Gus Dur bahwa pesantren adalah sub kultur tersendiri maka Buntet Pesantren adalah religious community pada sub kultur masyarakat Indonesia.

Haul kali ini saya juga sempatkan sowan ke guru saya dalam bidang sejarah Islam KH.Aris Ni’matullah yang juga adik kandung Kyai Adib yang beberapa bulan lalu pulang dari Jepang atas undangan Dubes Jepang bersama rombongan Kyai muda lainnya dari beberapa pesantren. Saya juga ketemu KH.Wawan Arwani guru saya dalam berorganisasi yang sekarang jadi pengurus PBNU bidang Pendidikan Tinggi NU, KH. Fariz al-Haq Fuad Hasyim yang juga menjadi pengurus GP Anshor bidang Dakwah dan Pengembangan Pesantrenan. Saya juga sempat bertemu dengan beberapa ulama dan ustadz Buntet lainnya. Sayang pada Haul tahun ini saya tidak sempat bertemu langsung dengan Mbah Din karena kesibukan beliau menerima ratusan tamu dan waktu saya yang terlalu pendek. Namun saya senang dapat lama berbicara dan bercengkerama dengan guru sekaligus orang tua kedua saya yakni KH.Hasanuddin Busyrol Karim. Beliau adalah karib orang tua kandung saya karena semasa tahun 50an keluarga besar KH.Busyrol Karim selama 5 tahun tinggal di rumah kakek saya di Desa Getas, Bawang Batang Jawa Tengah. Kyai Hasan dan sekolah dan menghabiskan masa remajanya di kampung kelahiran saya itu.

Sebelum pulang saya sempatkan menjenguk KH.Abdul Hamid Anas yang sedang menjalani perawatan akibat serangan stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah pada otak. Diruangan Intensive Care Unit saya melihat beliau tergeletak lemas tapi masih cukup lancar dalam berbicara, bahkan masih “kersa” makan dan minum. Saya sempatkan bertanya pada suster yang merawat mengenai pemicu pecahnya pembuluh darah di atas otak tersebut dan melihat hasil scanning radiologi CT Scan. Saya juga coba lihat record gula darah, tensi darah dan kadar kolesterol Kyai Hamid. Ternyata semua recordnya masih menunjukkan angka yang belum terlalu berbahaya dan alhamdulillah setelah saya teliti hasil scanning radiologi menunjukkan perkembangan positif kondisi pembuluh darah yang pecah karena scanning pertama, kedua dan ketiga menunjukkan gumpalan darah yang mengecil dan tambah mengecil. Pertanda recovery pasca stroke mulai berjalan dan membaik.

Saya pribadi bukan hanya kagum tapi sangat mengidolakan beliau. Sebab sebagai ulama Buntet yang meminjam istilah almaghfurlah KH.Cholil Bisri Rembang bahwa beliau adalah salah satu “paku” tanah Jawa bukan hanya alim dan wira’i tetapi Kyai Hamid memiliki kharisma yang luar biasa. Terutama apabila sedang menyampaikan ceramah agama. Dengan diksi yang tinggi, intonasi yang tertata dan lembut serta kefahamannya akan sejarah keislaman bahkan terkadang susah dicari referensinya dalam buku-buku agama. Kyai Hamid bagi masyarakat Buntet ibarat “pemangku adat” karena beliau selalu menjadi pemimpin acara keagamaan dipesantren. Mursyid Tarekat Syathoriyah ini merupakan sosok ulama pesantren yang sangat hati-hati, menjaga diri dari hal-hal yang berbau duniawi, apalagi politik, serta ahli tirakat. Kekaguman saya kepada beliau adalah kekaguman yang paripurna. Semoga Kyai Hamid tercinta lekas diberikan kesembuhan oleh Allah Ta’ala dan dapat kembali membimbing umat dan para santri. Alfatihah, Amien.

Saya pun pamitan dari bumi perjuangan Buntet Pesantren dan tanah para wali Cirebon. Sejuta kenangan tertinggal dan keindahan suasana bathin luar biasa yang menjelma pada kuntum hati pecinta ulama. Sekarang saya yang menjalani karir profesional dibidang energi khususnya gas bumi merupakan anak zaman yang lahir dari gemblengan para penghulu ilmu di Buntet Pesantren. Ngepel lantai rumah Kyai, nyapu, nyuci piring, belanja dipasar, masak di dapur hingga memberi makan ternak kambing milik Kyai sejatinya hanyalah kawah candradimuka agar kita menjadi tertempa. Hasilnya adalah hikmah dan barokah. Karunia Allah yang telah saya dapatkan selama ini tidak terlepas dari doa orang tua dan para ulama. Buntet Pesantren bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tapi juga ilmu kehidupan. Disana sinar masih terus benderang, menerangi siapa saja yang mau membuka hati. Pembaca yang budiman jika anda belum sempat nyantri atau menitipkan putra putri di Buntet Pesantren, saran saya datanglah pada peringatan Haul 2012, tahun mendatang. Sampai ketemu dan wassalam.

About baimoregsoncoem

i love u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s